D’ACADEMY ASIA (SYUHADA TERSENGGOL SINETRON)


Selama 2 hari (18-19 Desember 2015) D’Academy Asia kehadiran tamu yang sangat-sangat istimewa: Dato’ Siti Nurhaliza. Suasana di studio Indosiar berubah menjadi istimewa juga. Mae Soimah begitu gembira bisa bertemu langsung dengan idolanya dan nyanyi bareng, begitu juga Saipul Jamil yang nggak henti-hentinya mengagumi pesona Diva dari Malaysia. Dato’ Siti Nurhaliza memang pantas mendapatkan penyambutan dan penghormatan yang istimewa. Saya sendiri kagum dengan kesederhanaan, kelembutan dan kesantunannya, sekalipun menyandang gelar Diva, tapi Dato’ Siti sama sekali tidak  menonjolkan hal itu. Jangan tanya deh kalo Diva-nya Indonesia, pantang nggak nge-jreng!

syu

Gambar: twitter@IndosiarID

Di babak penyenggolan Grup A kali ini (19 Desember 2015), Syuhada menerima 2 kado yang tak terlupakan. Pertama kado kejutan berupa kue ulang tahun dari peserta lain yang diam-diam merencanakan ini di hari ulang tahunnya yang ke 19 jatuh tepat tgl 19 pula, dan kado yang kedua adalah tersenggolnya dia dari babak penyisihan Grup A di TOP 8. Tapi sebenarnya ini bukan lagi sebuah kejutan, semua orang sudah bisa menebak.

Kalau Fakhrul Razi sering mengibaratkan para peserta dengan perumpamaan nasi lemak, nasi goreng, kue lapet, atau perumpamaan lainnya, saya sejak awal sudah mengibaratkan D’Academy Asia sebagai sebuah cerita Sinetron yang sudah bisa ditebak ending ceritanya. Di D’Academy Asia ini, penonton sudah bisa menebak Lesti-lah yang akan keluar sebagai juara 1. Tinggal memastikan siapa 2 lagi yang tersisa di 3 besar, apakah itu Danang dan Evi? Atau Danang dan Shiha atau Shiha dan Evi?

Mengutip omongan Mae Soimah yang menyampaikan protes para penonton (yang jelas pendukung di luar dari Lesti dan Danang) yang mempertanyakan kenapa cuma Lesti dan Danang  terus yang dipuji-puji. Dalam setiap kompetisi pasti ada satu atau dua peserta yang menonjol, namun bukan berarti peserta lainnya adalah buruk. Tapi munculnya protes dan pertanyaan seperti itu, pasti ada penyebabnya. Makanya saya sering ‘ketawa’ setiap pertanyaan ini muncul dari mulut komentator, “Penampilan kamu belakangan ini menurun? Apa ada masalah”

Syuhada sudah tau, dia akan tersenggol. Begitu juga peserta lainnya yang sudah lebih dulu tersenggol. Kenapa? Karena mereka melihat dan menyadari ada yang lebih unggul dari mereka. Begitu juga pengelompokan yang terkesan meringankan tugas juri untuk menentukan siapa yang akan disenggol. Ditambah perlakuan yang istimewa dari komentator terhadap sang jagoan. Sebut saja Lesti yang terkesan dianak-emaskan dengan julukan ‘anak ajaib’-nya. Siapapun pasti ketar-ketir mendengarnya, bayangkan… “Anak Ajaib” bo’…

Tapi saya juga nggak bisa menyangkal kalo Lesti memang serba bisa, olah vocalnya tidak bisa diremehkan. Begitu juga, nggak bisa disalahkan, kalau pendukung peserta lain justru meluncurkan protes dan seolah mencibir kelebihan Lesti. Itu semata karena sikap dan perlakuan istimewa yang ditunjukkan oleh komentator, pujian-pujian yang berlebihan yang membuat peserta lain drop mentalnya. Ketika sudah drop, performa merekapun menurun, dan disaat menurun maka komentator akan bertanya “Kenapa? Apa masalahnya?” – pertanyaan yang lagi-lagi membuat saya ngekeh. Terkadang komentator bertanya tanpa menilik lebih dahulu, tidak menyadari bahwa mereka secara tidak langsung ikut andil dalam kemerosotan performa peserta lain.

Dan parahnya lagi, setelah mendapat protes, ibarat sinetron yang dapat kecaman, skenario-pun dirubah. Untuk menyenangkan hati pendukung lain, Lesti dilengserkan ke posisi ke-2 di bawah Evi. Kadang saya nggak ngerti, kenapa harus berjalan seperti ini? Walaupun performa Lesti dinilai kurang memuaskan di 2 hari terakhir, tapi merosotnya dia ke posisi ke-2 terkesan seperti sebuah skenario. Memang, di malam babak penyisihan, pendukung Evi yang hadir begitu membludak, tapi membludak bukan berarti penentu kemenangan kan?

Sesuatu yang baik memang pantas dipuji, namun kalau pujian itu disembunyikan karena ada yang tak senang, apa gunanya? Untuk apa menyenangkan hati pendukung lain dengan menempatkan Evi di posisi pertama kalau toh pada akhirnya sudah tersurat Lesti-lah pemenangnya? Sama saja dengan PHP (Pemberi Harapan Palsu) kan?

score.png

Gambar: twitter@IndosiarID

Malam ini akan tampil di Grup B (Danang, Ati, Shiha dan Fitri). Siapa yang akan tersenggol? Nggak mungkin Danang karena performa dia sangat bagus, nggak mungkin juga Ati karena dia bertubuh extraordinary dan lucu, nggak mungkin juga Shiha karena dia mirip Rosa dan suaranya dianggap mirip Dato’ Siti Nurhaliza (yang kemudian diralat oleh Pak Ngah), Apakah Fitri karena dia sangat gemulai dan performa terakhirnya banyak menuai kritikan dari komentator?

Inilah yang dimaksud pengelompokan yang meringankan juri, bahkan penontonpun sudah bisa menebak siapa yang bakal tersenggol. Walau pada akhirnya bukan Fitri yang tersenggol, tapi saya jamin, tebakan awal penonton lain pasti Fitri yang tersenggol. Kenapa? Jawabannya ya kurang lebih seperti tebak-tebak buah manggis saya yang diatas. Sebuah sinetron yang sudah bisa ditebang akhir ceritanya kan?🙂

One thought on “D’ACADEMY ASIA (SYUHADA TERSENGGOL SINETRON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s