D’ACADEMY ASIA (CURHAT SOIMAH)


Ada yang lain hari ini di D’Academy Asia edisi 20 Desember 2015 yang menampilkan peserta dari Grup B : Danang, Aty, Shiha dan Fitri.  Dimana persembahan yang terbaik kali ini adalah persembahan dari Danang.  Sementara Fitri mengalami progress yang signifikan namun tetap belum bisa memuaskan hati juri, sementara penampilan Shiha tak lebih dari pesonanya di mata komentator kaum adam, ditanya-tanya, dibujuk-bujuk, disunting-sunting,  bicara kualitas vocal ya lumayanlah. Dan Aty sendiri yang kehilangan jati diri (antara jadi penyanyi atau pelawak) semakin gembung dengan gaun Raflesia-nya, soal vocal? Jauhlah dibanding Fitri .

SUARA EMAS MAMI

Tapi ada yang membuat saya tertegun waktu Mami Masidayu mencontohkan lagu yang sebelumnya dibawa oleh Shiha. Mungkin banyak yang belum pernah mendengar lagu itu, begitu juga saya. Sewaktu Shiha membawakan lagu yang ada “burung pungguk”nya itu, saya memilih untuk mengambil momen ini sebagai momen terbaik untuk ke toilet. Sedikitpun saya nggak merasa rugi untuk melewatkan penampilan peserta asal Malaysia ini disebabkan saya nggak mengerti lagunya karena belum pernah dengar, dan juga cara Shiha membawakannya yang sama sekali tidak membuat saya terkesan. Entah kalau yang lain …

Beda sewaktu Mami Masidayu mengkritik cara pembawaan lagu oleh Shiha dan mencontohkannya dengan menyanyikan beberapa penggal bait lagu itu. Suasana hati tiba-tiba berubah, saya bisa merasakan kesedihan dalam lagu tersebut, benar-benar menyentuh saat Mami membawakannya. Sumpah, kalo tadinya Mami yang membawakan ini, saya nggak bakalan beranjak seinci-pun, takkan melewati sedetikpun tiap lantunan yang didendangkan Mami, apalagi untuk ke toilet, nggak bakalan!

CURHAT MAE SOIMAH

mae

Gambar: twitter@IndosiarID

Beda lagi nih dengan Mae Soimah yang tiba-tiba melo dan hampir menitikkan air mata begitu Danang selesai tampil. Udah 2 hari belakangan ini Mae selalu curhat, selalu melo, dan penyebabnya nggak jauh-jauh, ya masalah haters di sosmed. Alamak’eee… Yang begituan kok dicurhatin mulu di depan penonton? Omongan haters kok dimasukin ke hati. Secara Mae cerita flashback tentang bagaimana dia dulu yang pernah tidak dianggap dan rupa-rupa cerita tentang jaman nggak enaknya dia. Harusnya Mae kan sudah lebih matang dalam menyikapi ini karena sudah lebih dulu melewatinya.

Saya coba tilik satu-persatu komen dari mereka-mereka yang melayangkan hujatan ke akun sosmed Mae Soimah. Kadang nggak nyambung juga sih antara foto yang di-aplod Mae dengan isi komennya. Mosok, foto bareng Dato’ Siti Nurhaliza tapi komennya malah hujatan soal yang lain. Dari semua komen, pasti ada yang pro dan kontra. Malah ada juga yang berantem dari kubu Pro vs Kontra. Rame dah…

Intinya masih soal Danang dan Lesty yang dianggap terlalu dianak-emaskan. Untuk itu katanya Mae mulai merasa terusik dan terpanggil untuk meluruskan. Mae mengatakan sejak saat itu, dia merasa tidak lagi profesional.

Masalahnya, kapan D’Academy Asia ini pernah tampil profesional? Dengan semua gaya komentator yang grasak-grusuk, hostnya juga yang terkesan menjadikan para komentator menjadi dagelan bahkan juga juri. Bahkan Indonesian Idol aja belum bisa disebut profesional namun masih lebih baik dari D’Academy Asia. Penonton butuh tontonan, butuh hiburan. Acara kompetisi di D’Academy Asia ini bagi saya cukup menghibur. Berhubung ini adalah kompetisi, maka akan ada persaingan baik oleh peserta maupun kubu masing-masing pendukungnya. Saya rasa ini yang nggak pernah dipertimbangkan oleh komentator sebelum mengambil sikap.

Haters sosmed Mae ada yang protes soal penilaian, sikap yang menganak-emaskan salah satu peserta, juga soal kado. Saya rasa itu wajar, karena memang seperti itulah adanya yang diperlihatkan. Disadari atau tidak, disengaja atau tidak, itulah fakta di lapangan. Wajar kalau salah satu kubu pendukung yang idolanya diperlakukan tidak adil jadi pada mencak-mencak.

Dengan mencurhatkannya di depan ribuan penonton bukanlah solusi yang terbaik. Justru disitu terlihat ketidak-tegaran Mae Soimah, terlihat bahwa Mae sendiri mulai terpancing. Ini juga bukan solusi untuk menghentikan haters karena haters tidak akan pernah mati. Semakin dibahas dan semakin dicoba untuk diluruskan, maka akan semakin menuai hal-hal yang nggak mengenakkan hati. Pahami saja Mae, renungkan lalu luruskan dengan sikap dan perbuatan, bukan dengan kata-kata. Lagipula, ngapain juga omongan gituan diangkat ke permukaan membuat Mae Soimah terlihat bak menu makanan yang enak untuk disantap?

Menceritakan tentang Danang yang masuk ke ruang Make Up adalah suatu kesalahan besar dan saya nggak bisa menyalahkan para haters yang kemudian menerjemahkan pernyataan itu ke bermacam opini yang sama sekali berseberangan dengan makna yang ingin Mae sampaikan. Karena itu adalah pernyataan yang bermakna luas… Tiap-tiap orang mengartikan dalam versi yang berbeda-beda.

Intinya, nggak usah curhat seperti itu-lah Mae Soimah, nggak ada gunanya. Karena apapun tujuan baik yang terselip dibalik pernyataan itu nggak bakalan merubah apapun. Bersikap adil, hanya itu yang diinginkan penonton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s